Ananda Donie | Bengkalis, Riau
anandadonie.blogspot.com - Penyebab alergi tersering pada
anak-anak adalah makanan. Gejalanya bisa muncul kapan saja dan penyebab terbesarnya biasanya adalah susu, makanan laut, telur, sampai kacang-kacangan.
Alergi pada dasarnya adalah suatu kumpulan gejala akibat reaksi berlebihan tubuh terhadap bahan dari luar. Alergi banyak dipengaruhi oleh faktor keturunan. Namun seringkali alergi makanan pada anak bukan murni akibat si kecil memakan makanan yang menyebabkannya alergi melainkan juga dipicu dengan keadaan infeksi.
Menurut pakar alergi anak dr. Widodo Judarwanto, SpA, kebanyakan orangtua masih sering mengabaikan infeksi sebagai pemicu alergi. Sebaliknya, orangtua hanya berfokus terhadap makanannya saja.
"Padahal bisa jadi anak hanya mengalami hipersensitifitas terhadap makanan karena sedang mengalami infeksi virus atau bakteri," jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (4/7/2013).
Widodo mengatakan, saat gejala alergi mulai timbul pada anak, seperti ruam merah dan gatal-gatal di kulit, kebanyakan orangtua langsung menilai anaknya alergi makanan tertentu. Padahal saat itu mungkin anaknya sedang demam, flu, dan gejala infeksi lainnya.
"Perlu dipastikan dulu, apakah benar itu alergi makanan atau hanya efek dari infeksi," tandas dokter yang berpraktek di Children Allergy Clinic, Rumah Sakit Bunda Jakarta ini.
Tes alergi dapat menjadi cara untuk memastikan alergi makanan. Salah satu jenis tes alergi yang dinilai Widodo paling sering dilakukan yaitu metode provokasi makanan secara buta atau double blind placebo control food challenge (DBPCFC).
Widodo mengatakan, DBPCFC merupakan standar baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Sebaiknya tes dilakukan saat anak dalam keadaan sehat, tidak mengalami flu atau demam, agar hasil yang diperoleh bisa akurat.
Di Indonesia angka kejadian alergi pada anak belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa ahli memperkirakan sekitar 25-40% anak pernah mengalami alergi makanan.
Di negara berkembang angka kejadian alergi yang dilaporkan masih rendah. Hal ini berkaitan dengan masih tingginya kesalahan diagnosis atau under diagnosis dan kurangnya perhatian terhadap alergi dibandingkan dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atau diare yang dianggap lebih mematikan.
anak-anak adalah makanan. Gejalanya bisa muncul kapan saja dan penyebab terbesarnya biasanya adalah susu, makanan laut, telur, sampai kacang-kacangan.
Alergi pada dasarnya adalah suatu kumpulan gejala akibat reaksi berlebihan tubuh terhadap bahan dari luar. Alergi banyak dipengaruhi oleh faktor keturunan. Namun seringkali alergi makanan pada anak bukan murni akibat si kecil memakan makanan yang menyebabkannya alergi melainkan juga dipicu dengan keadaan infeksi.
Menurut pakar alergi anak dr. Widodo Judarwanto, SpA, kebanyakan orangtua masih sering mengabaikan infeksi sebagai pemicu alergi. Sebaliknya, orangtua hanya berfokus terhadap makanannya saja.
"Padahal bisa jadi anak hanya mengalami hipersensitifitas terhadap makanan karena sedang mengalami infeksi virus atau bakteri," jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (4/7/2013).
Widodo mengatakan, saat gejala alergi mulai timbul pada anak, seperti ruam merah dan gatal-gatal di kulit, kebanyakan orangtua langsung menilai anaknya alergi makanan tertentu. Padahal saat itu mungkin anaknya sedang demam, flu, dan gejala infeksi lainnya.
"Perlu dipastikan dulu, apakah benar itu alergi makanan atau hanya efek dari infeksi," tandas dokter yang berpraktek di Children Allergy Clinic, Rumah Sakit Bunda Jakarta ini.
Tes alergi dapat menjadi cara untuk memastikan alergi makanan. Salah satu jenis tes alergi yang dinilai Widodo paling sering dilakukan yaitu metode provokasi makanan secara buta atau double blind placebo control food challenge (DBPCFC).
Widodo mengatakan, DBPCFC merupakan standar baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Sebaiknya tes dilakukan saat anak dalam keadaan sehat, tidak mengalami flu atau demam, agar hasil yang diperoleh bisa akurat.
Di Indonesia angka kejadian alergi pada anak belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa ahli memperkirakan sekitar 25-40% anak pernah mengalami alergi makanan.
Di negara berkembang angka kejadian alergi yang dilaporkan masih rendah. Hal ini berkaitan dengan masih tingginya kesalahan diagnosis atau under diagnosis dan kurangnya perhatian terhadap alergi dibandingkan dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atau diare yang dianggap lebih mematikan.
Sumber : health.kompas
Editor : Ananda Donie
Animasi|Artikel|Unik dan Menarik|Auto Text BB|Blog Code|Blog Info|Blog Tool|Cerita Rakyat|Cinema|
Download|P Ramlee|Mutiara Bijak|HJ-Split|Pendidikan|PTC|Sejarah|SEO|Kesehatan|Tutorial|
Idul Adha|Update Via App|Widget|Cerpen|News
Download|P Ramlee|Mutiara Bijak|HJ-Split|Pendidikan|PTC|Sejarah|SEO|Kesehatan|Tutorial|
Idul Adha|Update Via App|Widget|Cerpen|News
Copyright © 2012 by Ananda Donie. All rights reserved


"
"
"
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Accept criticism and suggestions from friends for the perfection of this Blog.
Hopefully this article useful,
Thank you :)